Kisah Sukses Designer Kebaya Terbaik Anne Avantie

Kisah Sukses Anne Avantie
Designer kebaya - Anne Avantie

Ia berasal dari Semarang, Jawa Tengah dan kini telah melahirkan karya – karyanya yang luar biasa. Di kampung halaman nya yang jauh dari hiruk pikuk ibu kota DKI Jakarta, perancang busana yang bernama lengkap Sianne Avantie itu menghasilkan busana – busana yang dikenal dalam negeri maupun di luar negeri.

Kisah Sukses Anne Avantie
Designer kebaya – Anne Avantie

Namun ketenarannya tidak membuat perancang busana yang terkenal dengan koleksi kebayanya itu terbang tinggi, dia tetap memilih menjadi sederhana. Hal ini terlihat dari penampilannya yang tidak glamour seperti busana – busana rancangan nya. Demikian juga dalam berbagai kesempatan, Anne hanya mengenakan atasan polos tanpa banyak detail dipadu dengan celana hitam. Ia juga setia dengan rambut aslinya yang lebih sering disanggul dan diselipi bunga kamboja. Dia mengatakan ” Dari dulu penampilan saya tidak pernah berubah, saya selalu seperti ini “. Sampai akhirnya suaminya ( yang kedua ) berucap bahwa : ” Anne paling gampang dicari kalau hilang, karena penampilannya itu – itu saja dan tidak pernah berubah “.

Ia juga menuturkan bagaimana ia memulai karier yang sudah dijalani selama 25 tahun itu berawal dari nol. Ia benar – benar merangkak dari bawah. Bakat menjahit yang ia peroleh dari ibunya, Amie Indriati, dia asah secara autodidak di rumah kontrakan dengan modal dua mesin jahit. Ia kemudian membuka bengkel jahit sederhana yang diberi nama ” Griya Busana Permatasari ” dan menyewakan pakaian tari.

Ia mengungkapkan dalam acara talkshow nya, bahwa ia lahir sebagai anak ke-22 dari 24 bersaudara. Dan dia hanya sempat mengenyam pendidikan sampai Sekolah Menengah Pertama. Pernah ia merasa lahir dari keluarga yang salah, ia juga pernah merasa memiliki banyak keterbatasan, dan ia juga pernah mengalami kegagalan dalam pernikahan.

Tapi dia tidak mau larut dalam keterpurukan, justru yang membuat ia bangkit adalah ia merasa sebagai perempuan yang luar biasa. Karena keterpurukan itu tidak pernah ia nikmati, begitu juga dengan segala kekurangan yang ada. Kenapa dia harus menganggap semua ini keterbatasan? Dia merasa tidak pernah terbatas dengan pendidikan yang terbatas.

Oleh karena itu yang menjadi tekad nya adalah ia tidak ingin melahirkan anak – anak yang nantinya ikut bermasalah, walaupun dia berasal dari keluarga bermasalah. Ia pun berjuang menjadi perempuan berarti, yang tidak hanya menjadi designer saja. Dan yang membuat ia yakin adalah keinginan untuk berubah dan dia berhasil mengubah hidupnya.

Anne Avantie memang perempuan biasa dengan segala kekurangan, tetapi ia mampu berkompetisi. Setelah menjadi orang di belakang layar yang banyak membuat kostum penari dan berbagai busana malam, Anne mencoba mengadu nasib ke Jakarta bersama rancangan busananya. Kemudian melalui proses yang berliku, ia dikenal sebagai DESIGNER KEBAYA TERBAIK.

Kebaya rancangannya tak hanya memikat penyuka fashion di Tanah Air, tapi juga masyarakat Internasional. Kini banyak orang meniru hasil karyanya, namun Anne tidak mau ambil pusing. Anne memilih jalan damai dengan para plagiatnya. Justru dengan berdamai ia bisa menginspirasi orang lain. Tidak perlu klaim kalau ini karyanya. Dia merasa kalau dia mematenkan karyanya, bisa – bisa setiap hari ia di kantor polisi karena dari Sabang sampai Merauke ada saja yang menjiplak karyanya. Itulah sebabnya ia memilih tidak peduli meskipun karya nya sering di contek oleh orang lain dengan menyebutnya sebagai titik keihklasan.

Berdamai dengan keterbatasan Anne sudah membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah hambatan. Keterbatasan justru menjadi cambuk  untuk maju. Bagi Anne, karier sebagai seorang perancang busana tidak bisa diukur dari sebuah ijasah dan seharusnya ijasah tidak menghalangi kemampuan seseorang.

Oleh karena itu ia menerima tukang jahit, tukang payet tanpa harus menyertakan ijasah. Karena karier fashion seseorang tidak bisa dihalangi dengan hanya sebuah kertas. Bahkan dia tanpa rasa sungkan, menyebut dirinya tidak jauh dari kekurangan. Ia juga mengaku tidak lancar berbahasa Inggris dan tidak mengikuti kemajuan Teknologi sehingga untuk menggunakan telepon pintar dia harus meminta bantuan asisten nya.

Uniknya dengan segala keterbatasan nya terhadap perkembangan teknologi, justru membuat hasil karya Anne menjadi eksklusif dengan mempertahankan sentuhan tangan ( handmade). Makanya produksinya tidak pernah terlalu besar,karena tanpa ada sentuhan teknologi. Tidak heran jika hasil rancangannya mempunyai nilai yang tinggi.

(Visited 793 times, 1 visits today)
Facebooktwittergoogle_plusredditpinterestlinkedinmail

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*